Sugar Intake: Berapa Banyak Gula yang Sebenarnya Dibutuhkan Tubuh?

ChatGPT Image Feb 13 2026 04 43 26 PM 1024x683

Gula sering kali mendapat reputasi buruk. Dalam berbagai diskusi kesehatan, gula kerap dianggap sebagai biang masalah mulai dari kenaikan berat badan hingga penyakit kronis. Namun, pertanyaannya: apakah tubuh benar-benar tidak membutuhkan gula sama sekali? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Namun, kebutuhan gula ini sebenarnya tidak sebesar yang sering kita bayangkan. Secara umum, anak-anak disarankan membatasi konsumsi gula hingga sekitar 25 gram per hari, sementara orang dewasa sekitar 50 gram per hari.

Masalahnya bukan pada kebutuhan gulanya, melainkan jumlah dan jenis gula yang dikonsumsi. Banyak orang tanpa sadar mengonsumsi gula jauh lebih tinggi dari yang dibutuhkan karena pola makan modern yang sarat makanan dan minuman manis.

Dampak Kelebihan Gula Rafinasi

Gula rafinasi atau gula tambahan biasanya ditemukan dalam minuman manis, kue, biskuit, saus kemasan, hingga makanan olahan. Jenis gula ini hampir tidak mengandung nutrisi lain selain kalori kosong. 

Konsumsi berlebihan gula rafinasi dapat menyebabkan: 

  • Lonjakan gula darah yang cepat
  • Rasa cepat lelah atau sugar crash
  • Peningkatan risiko obesitas
  • Gangguan metabolisme jika dikonsumsi terus-menerus

Konsumsi berlebihan gula rafinasi dapat menyebabkan: 

Bukan Berarti Tubuh Tidak Butuh Gula

Namun, penting untuk dipahami bahwa mengurangi gula bukan berarti menghilangkannya sama sekali. Tubuh tetap memerlukan asupan gula untuk menjalankan fungsinya secara optimal.

Kuncinya ada pada memilih sumber gula yang tepat. Di sinilah perbedaan antara gula tambahan dan gula alami menjadi penting. Gula alami tidak hanya memberikan rasa manis, tetapi juga datang bersama nutrisi lain yang bermanfaat bagi tubuh.

Mengenal Gula Alami: Lebih dari Sekadar Rasa Manis

Gula alami biasanya ditemukan dalam makanan utuh seperti buah-buahan, madu, dan kurma. Berbeda dengan gula rafinasi, gula alami hadir bersama serat, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif lainnya.

Serat berperan penting karena membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam darah. Hasilnya, kadar gula darah menjadi lebih stabil dan energi dilepaskan secara bertahap, bukan melonjak tiba-tiba.

Kurma: Contoh Sumber Gula Alami yang Seimbang

Salah satu contoh sumber gula alami yang sering dianggap “terlalu manis” namun sebenarnya bernilai gizi tinggi adalah kurma. Kurma mengandung gula alami seperti glukosa dan fruktosa, tetapi juga kaya akan serat, kalium, magnesium, dan antioksidan.

Kombinasi inilah yang membuat kurma berbeda. Serat dalam kurma membantu memperlambat penyerapan gula, sehingga memberikan energi yang lebih tahan lama. Itulah sebabnya kurma sering dikonsumsi sebagai sumber energi alami, terutama saat berpuasa atau sebelum aktivitas fisik.

Selain itu, kurma juga termasuk makanan utuh (whole food) dan secara alami bebas gluten, sehingga cocok untuk berbagai pola makan, termasuk gluten-free dan clean eating.

Mengelola Sugar Intake dengan Lebih Bijak

Mengontrol sugar intake bukan berarti harus sepenuhnya meninggalkan rasa manis. Pendekatan yang lebih realistis adalah:

  • Mengurangi konsumsi gula tambahan dan makanan ultra-proses
  • Memilih sumber gula alami dari makanan utuh
  • Mengonsumsi gula dalam porsi yang seimbang
  • Memperhatikan respons tubuh terhadap makanan manis

Dengan cara ini, tubuh tetap mendapatkan energi yang dibutuhkan tanpa efek samping dari konsumsi gula berlebihan.

Gula bukanlah musuh, tetapi cara kita mengkonsumsinya yang menentukan dampaknya bagi kesehatan. Tubuh membutuhkan gula, namun dari sumber yang tepat dan dalam jumlah yang seimbang. Beralih ke gula alami seperti buah dan kurma bisa menjadi langkah sederhana namun bermakna untuk mengelola sugar intake dengan lebih cerdas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *